Kamis, 24 Desember 2009

mengenang gilang


Ngamen untuk Bangun Nisan Teman



  • Kelompok Pinggiran Kenang Gilang
EMPAT belas pengamen yang menamakan diri Kelompok Pinggiran, Senin (19/5) menggelar ''reli'' mengamen di empat tempat di Solo. Mengawali aksinya di halaman kampus UMS Pabelan, mereka lalu melanjutkan pergelaran musik kecil-kecilan ke Gedung DPRD Surakarta, bulevar, dan halaman Fakultas Sastra kampus UNS.
Sedianya mereka juga akan tampil di halaman Balai Kota, tapi hal itu diurungkan. Sebab, Satpol PP yang berjaga-jaga di pusat pemerintahan Kota Solo itu tidak mengizinkan mereka.
Tak seperti layaknya pengamen jalanan yang hanya mengandalkan sebuah cuk (gitar kecil), kelompok tersebut justru mengusung berbagai peralatan musik. Antara lain perkusi (jimbe), gitar, tamborin, snare drum, bas gitar, dan lead gitar.
Untuk mengoperasikan beberapa peralatan elektronik sebagai penunjang, mereka membutuhkan arus listrik. Karena itu, sebuah gulungan kabel panjang pun dibawa. Kemudian mereka meminta aliran listrik dari kantor terdekat.
''Kami menggelar acara ini untuk memperingati Gilang, teman kami yang tewas dalam demo gerakan reformasi, lima tahun lalu. Hasil dari mengamen akan kami gunakan untuk membangun kijing (nisan-Red) di makamnya,'' kata Guntur T Cunong, ketua kelompok tersebut.
Mengedarkan Tampah
Dua rekannya, Nunung dan Erwan Setyabudi mengungkapkan, Gilang adalah pengamen Solo yang ditemukan tewas di hutan kawasan Sarangan, Magetan, 21 Mei 1998. Beberapa hari sebelumnya, dia hilang bersamaan dengan maraknya gerakan-gerakan demo reformasi. Jenazahnya kemudian dimakamkan di TPU Purwoloyo, wilayah Jebres.
Di depan Gedung DPRD, mereka melantunkan lima lagu ciptaan kelompok itu, seperti "Surakartan", "Repotnasi", "Pagi", dan "Anak Jalanan". Saat beberapa orang menyanyi dan memainkan alat musik, satu-dua yang lain mengedarkan tampah kecil kepada beberapa wakil rakyat di gedung itu.
''Kegiatan yang dibuat Kelompok Pinggiran itu cukup bagus. Selain untuk mengungkapkan solidaritas antarsesama, juga berpenampilan sopan. Semestinya pengamen sopan seperti itu,'' kata Krismas Irmono, anggota Komisi A DPRD duduk bersama wartawan di sekitar arena mengamen.
Sementara itu, sebelumnya di halaman kampus UMS paling tidak ada tiga lagu dinyanyikan kelompok tersebut, yakni "Indonesia Baru", "Negeri Pesulap", dan "Repotnasi".
''Semoga hasil ngamen di empat tempat nanti banyak, sehingga selain bisa untuk membuatkan kijing di makam Gilang, sisanya dapat kami sumbangkan ke keluarganya. Tapi kalau hasilnya sedikit, paling tidak kami akan membuatkan fondasi untuk kijing pada makam Gilang,'' tutur Nunung.
Seusai mengamen di Gedung Dewan, mereka berpindah ke bulevar kampus UNS, kemudian berlanjut ke halaman Fakultas Sastra di Kentingan. Karena gagal menggelar pentas musik dadakan di halaman Balai Kota, mereka akhirnya membubarkan diri.
''Dari mengamen di empat tempat itu, kami mendapatkan Rp 325.000. Dalam beberapa hari ini mungkin kami akan membuatkan kijing di makam Gilang,'' ungkap Cunong, kemarin. (Setyo Wiyono-17c)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar